Rabu, 03 Mei 2017

ANALISIS POTENSI INVESTASI DI KAB.GARUT




RINGKASAN EKSEKUTIF
Kabupaten Garut merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang terletak di sebelah timur. Sejak zaman Belanda, Kabupaten Garut dikenal sebagai daerah peristirahatan dengan keindahan alam yang didominasi oleh perkebunan teh, sehingga Kabupaten Garut hingga saat ini menjadi salah satu tempat tujuan wisata. Selain potensi wisata, potensi pertanian di Kabupaten Garut, sangat besar, karena didukung oleh tanah yang sangat subur, dimana Kabupaten Garut berada pada daerah vulkanik. Potensi pertanian yang cukup besar di Kabupaten Garut, diantaranya adalah tanaman jagung dan padi. Selain potensi pertanian, Kabupaten Garut juga terkenal sebagai penghasil ternak, diantaranya adalah sapi dan domba. Banyaknya populasi hewan ternak sapi dan domba memunculkan salah satu peluang investasi , yaitu pakan ternak.
Kebutuhan pakan ternak di Kabupaten Garut dan sekitarnya saat ini disediakan oleh pabrik di daerah Jabotabek dan Sumatera. Hal ini menyebabkan harga pakan yang tinggi dan mengakibatkan harga ternak juga terus meningkat. Peluang tersebut cukup baik, karena kebutuhan pakan ternak yang terus meningkat tidak hanya di Kabupaten Garut tetapi juga di kabupaten lainnya, seperti Tasikmalaya dan Ciamis.
Analisis finansial untuk usaha pakan ternak adalah sebagai berikut :

Uraian
Nilai
Satuan
Volume Produksi Pakan
30,000
kg/hari
Harga Jual Pakan
2,000
Rp/kg
Net Profit (20%)
12,000,000
Rp/hari
Asumsi hari produksi
365
hari/tahun
Pendapatan bersih per tahun
4,380,000,000
Rp/tahun
Investasi
11,616,600,000
Rp.
Payback Period
2.65
tahun
IRR
38
Persen
NPV
5,111,763,883.5
Rp.
Profitability Index
3.34



I.          GAMBARAN UMUM DAERAH
Kabupaten Garut terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Tenggara pada koordinat  6º56'49 - 7º45'00 Lintang Selatan dan 107º25'8 - 108º7'30 Bujur Timur. Terdiri atas 42 kecamatan, yang dibagi lagi atas 424 desa dan 21 kelurahan. Pusat pemerintahan di  Kecamatan Tarogong Kidul. Kabupaten Garut yang secara geografis berdekatan dengan Kota Bandung sebagai ibukota provinsi Jawa Barat, merupakan daerah penyangga dan hinterland bagi pengembangan wilayah Bandung Raya.
Kabupaten Garut memiliki luas wilayah administratif sebesar 306.519 Ha (3.065,19 km²) dengan batas-batas sebagai berikut :
Utara               : Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang
Timur               : Kabupaten Tasikmalaya
Selatan            : Samudera Hindia
Barat               : Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur
        Kabupaten Garut yang secara geografis berdekatan dengan Kota Bandung sebagai ibukota provinsi Jawa Barat, merupakan daerah penyangga dan hinterland bagi pengembangan wilayah Bandung Raya. Oleh karena itu, Kabupaten Garut mempunyai kedudukan strategis dalam memasok kebutuhan warga Kota dan Kabupaten Bandung sekaligus pula berperan di dalam mengendalikan keseimbangan lingkungan.












Gambar 1. Peta Administrasi Wilayah Kabupaten



Bentang alam Kabupaten Garut Bagian Utara terdiri dari atas tiga  jenis, yaitu :
a.           dataran dan cekungan antar gunung berbentuk tapal kuda membuka ke arah utara,
b.           rangkaian-rangkaian gunung api aktif yang mengelilingi dataran dan cekungan antar gunung, seperti komplek G. Guntur - G. Haruman - G. Kamojang di sebelah barat,        G. Papandayan - G. Cikuray di sebelah selatan tenggara, dan G. Cikuray - G. Talagabodas - G. Galunggung di sebelah timur,
c.           Bentang alam di sebelah Selatan terdiri dari dataran dan hamparan pesisir pantai dengan garis pantai sepanjang 80 Km.
Secara umum iklim di wilayah Kabupaten Garut dapat dikategorikan sebagai daerah beriklim tropis basah (humid tropical climate). Curah hujan rata-rata tahunan di sekitar Garut berkisar antara 2.589 mm dengan bulan basah 9 bulan dan bulan kering 3 bulan, sedangkan di sekeliling daerah pegunungan mencapai 3500-4000 mm. Variasi temperature bulanan berkisar antara  240C  -  270C. Besaran  angka  penguap  keringatan  (evapotranspirasi)  menurut  Iwaco-Waseco (1991) adalah 1572 mm/tahun.

II.     KEPENDUDUKAN DAN TENAGA KERJA
Jumlah penduduk di Kabupaten Garut pada tahun 2013 sebanyak 2.485.732 jiwa yang terdiri dari 1.257.451 laki-laki dan 1.228.281 perempuan. Kepadatan penduduk terbesar  adalah 5.925 jiwa/km2 di Kecamatan Tarogong Kidul yang merupakan pusat pemerintahan dan perdagangan, sedangkan kepadatan terendah adalah di Kecamatan Pamulihah yaitu 135 jiwa/km2.
Berdasarkan Suseda pada tahun 2012, penduduk usia kerja adalah sebanyak 1.665.506 jiwa dengan jumlah angkatan kerja sebanyak 1.000.365 jiwa. Tingkat pengangguran sebanyak 6,38 %, atau sekitar 63.000 jiwa. Latar belakang pendidikan pencari kerja di Kabupaten Garut pada tahun 2012 dari total 18.695 pencari kerja, adalah sebagai berikut : SD 837 orang (4,47 persen), SLTP 1.823   orang (9,75%), SLTA 8.208 orang (43,9%), Diploma I/II/III/ Akademi   5114 orang (27,3 %), dan Sarjana  2.713 orang (14,51%).

III.     PEREKONOMIAN
LPE Kabupaten Garut pada tahun 2013 sebesar 4,82%. Angka tersebut tercatat merupakan capaian angka yang cukup tinggi selama lebih dari satu dekade terakhir. Fenomena tersebut dipicu oleh membaiknya kinerja pada sektor pertanian di Kabupaten Garut yang mampu tumbuh sebesar 4,16%. Di samping itu sektor lainnya juga memperlihatkan perkembangan yang positif, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor bangunan yang mampu tumbuh 7,42%.

IV.     SARANA DAN PRASARANA
Panjang jalan di Kabupaten Garut mencapai 4022,92 Km, yang terdiri dari 31,104 Km jalan nasional, 272,94 Km jalan provinsi, 828,76 Km jalan kabupaten, dan 2.883 Km jalan desa.
Jumlah jembatan di Kabupaten Garut mencapai 323 buah dengan total panjang sebesar 2.819,70 m. Sedangkan prasarana irigasi/pengairan teknis sekunder adalah 1.150 m dan teknis tersier 4.500 m.
Beragam moda transportasi ada di Kabupaten Garut karena Ibukota kabupaten Garut berada di jalur Jakarta-Garut-Tasikmalaya. Moda transportasi darat dapat ditempuh dengan menggunakan bis AKAP jurusan Garut-Jakarta, atau AKDP jurusan Bandung-Garut. Selain bis, moda transportasi darat lainnya adalah menggunakan kereta api  jurusan Jakarta-Kutoarjo  yang berhenti di stasiun Cibatu dan stasiun Leles. Sedangkan untuk transportasi di dalam kota, moda yang dapat digunakan adalah angkutan kota. Saat ini belum tersedia taksi argo di Kabupaten Garut.
Terdapat 88 kantor Bank Umum yang terdapat di Kabupaten Garut. Kantor Bank Umum tersebut terdiri dari Bank Pemerintah, Bank Swasta, Bank Daerah dan BPR. Sebagian besar kantor Bank Umum terdapat di kota, yaitu di Kecamatan Tarogong Kidul dan Garut Kota, sedangkan Bank Umum yang membuka cabang di seluruh kecamatan adalah Bank Rakyat Indonesia.
Di sisi layanan kesehatan, terdapat 5 rumah sakit, yang terdiri dari 2 rumah sakit umum daerah, dan 3 rumah sakit umum swasta. Rumah sakit umum daerah terdapat di Kecamatan Tarogong dan Kecamatan Pameungpeuk.
Mencari penginapan di Kabupaten Garut tidaklah sulit. Berdasarkan data dari BPS, tahun 2012 terdapat 102 penginapan di 10 kecamatan. Jumlah penginapan terbanyak adalah di Kecamatan Tarogong Kidul.

V.     POLA RUANG WILAYAH KABUPATEN GARUT
Rencana pola ruang wilayah kabupaten Garut merupakan rencana distribusi peruntukan ruang dalam wilayah kabupaten yang meliputi rencana peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan fungsi budidaya. Rencana peruntukan kawasan lindung merupakan kawasan yang tidak dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi. Rencana kawasan  budidaya  merupakan kawasan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi dan investasi.
  
Kawasan hutan lindung di Kabupaten Garut terdiri dari beberapa kawasan, antara lain :
1.      Kawasan hutan lindung dengan luas 75.928,37  hektar terletak di seluruh kecamatan;
2.      Kawasan konservasi, meliputi :
a.    kawasan cagar alam, seluas 11.479,57 ha
b.    kawasan cagar alam laut seluas 1.150 ha
c.    kawasan taman wisata alam seluas 831,31 ha
d.   kawasan taman buru seluas 2.471,92 ha
Adapum rencana penggunaan lahan kawasan budidaya di Kabupaten Garut dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1.
Rencana Penggunaan Lahan Kawasan Budidaya

Peruntukkan
Luasan (ha)
Pertanian
136.215
Perkebunan
56.940
Peternakan
42.000
Perikanan (KJA)*
28035
Agropolitan
     Tidak dialokasikan
Kawasan Non Pertanian

Perkotaan
6.271
Pedesaan
10.416
Kawasan Wisata                              Di seluruh kecamatan
Kawasan Galian                   Berada di kecamatan tertentu Agroforest
Hutan Rakyat                                                       44.410
Hutan Produksi terbatas                                          5416
Hutan Produksi tetap                                                166




VI.     POTENSI INVESTASI
Ø Potensi Pertanian
Sektor pertanian ini dijadikan andalan Kabupatan Garut agar mendapat peluang mendorong roda ekonomi Garut khususnya, juga bisa turut andil dalam perkonomian Jawa Barat.
Tabel 2.
Kapasitas Produksi Pangan Kabupaten Garut 2013

No

Komoditi
Produksi (Ton)
Luas (Ha)
A
Padi


1.
Padi Sawah
                 936.247                 
            136.407            
2.
Padi Gogo
                 128.606                 
              30.176             

Jumlah Padi
               1.064.853               
            166.583            
B
Palawija


1.
Jagung
                 559.741                 
              76.790             
2.
Kedelai
                  21.441                  
              12.945             
3.
Kacang Tanah
                  32.122                  
              18.963             
4.
Kacang Hijau
                    2.136                   
               1.951              
5.
Ubi Kayu
                 595.279                 
              26.658             
6.
Ubi Jalar
                 100.750                 
               7.375              

Jumlah Palawija
               1.311.469               
            144.682            
C
Sayuran


1
Bawang Merah
                  18.706                  
               1.967              
2
Bawang Putih
                        -                       
                    -                   
3
Bawang Daun
                  49.264                  
               3.373              
4
Kentang
                 161.073                 
               7.121              
5
Kubis
                 167.085                 
               6.594              
6
Kembang kol
                    2.403                   
                 157                
7
Petsay
                  58.018                  
               2.797              
8
Wortel
                  40.511                  
               1.941              
9
Lobak
                        0                       
                    -                   

10
Kacang Merah
41.835
4.799
11
Kacang Panjang
15.660
1.146
12
Jamur
0
-
13
Cabe Besar
107.337
5.923
14
Cabe Rawit
37.148
2.439
15
Tomat
141.830
4.337
16
Terong
23.238
936
17
Buncis
19.564
1.181
18
Timun
18.605
1.099
19
Labu Siam
14.753
321
20
Kangkung
5.158
371
21
Bayem
2.205
220

Jml. Sayuran
924.393
46.716
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Garut, 2013

Ø Potensi Peternakan
Kabupaten Garut memiliki potensi peternakan yang sangat baik. Produk unggulan peternakan Kabupaten Garut adalah Domba dan kambing. Luas lahan penggembalaan di Kabupaten Garut kurang lebih mencapai 2.651,65 Ha yang menghasilkan produksi  pakan  ternak sebanyak 93.187,08 Ton, sehingga produktivitas lahan penggembalaan dalam menghasilkan pakan sebesar 28,29 Ton/Ha.
Pencapaian populasi ternak Kabupaten Garut apabila dibandingkan dengan tahun 2012, rata- rata mengalami pertumbuhan antara 0,2% sampai dengan 18,66%, kecuali pada populasi itik. Peningkatan pertumbuhan populasi tersebut diperoleh antara lain melalui fasilitasi program pengembangan ternak dan breeding, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah, peternak maupun swasta. Adapun, jumlah populasi dan kapasitas produksi ternak besar dan unggas di Kabupaten Garut diuraikan dalam tabel di bawah ini
Tabel 3.
Jumlah Populasi dan Kapasitas Produksi Ternak Kabupaten Garut Tahun 2013

Jenis Ternak
Jumlah Populasi (Ekor)
Produksi
Daging (kg)
Kulit (Lbr)
Susu (Ltr)
Telur (Kg)




Ternak Besar
Sapi Perah
20.160

2.604,252

96,400
21.631.469
-
Sapi Potong
31.074
-
-
Kerbau
13.556
807,367
3,260
-
-
Kuda
84
-
-
-
-
Domba
1.126.976
184.827
21,720
-
-
Kambing
84.646
170.820
-
-
-
Jumlah
1.276.496
3.767.266
121,380
21.631.469
0



Unggas
Itik
242.581
164.500
-
-
2.159,437
Ayam Buras
1.553.380
1.328.114
-
-
2.401,196
Ayam Ras Pedaging
553.892

2.392.553
-
-
-
Ayam Ras Petelur
-
-
-
-
Jumlah
2.349.853
3.885.167
0
0
4.560.633
Jumlah
3.626.349
7.652.433
121,380
21.631.469
4.560.633
Sumber : Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Garut, 2013

Ø Potensi Perkebunan
Potensi perkebunan di Kabupaten Garut cukup besar. Luas perkebunan di Kabupaten Garut pada tahun 2013 mencapai 46.323.00 Ha, yang terbagi atas tanaman  perkebunan  rakyat 30.282.00 Ha , perkebunan besar negara (PTPN 8 Persero) sebesar 8.438.00 Ha dan perkebunan besar swasta (PBS) sebesar 7.603 Ha.
Perkembangan produksi perkebunan rakyat dapat dilihat dari luas areal dan produksi dari berbagai komoditi yang dibudidayakan serta ikut andil dalam menopang perekonomian masyarakat. Komoditas yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat ada 24 jenis, dan komoditas perkebunan besar terdiri dari : teh, karet, kakao, kina dan kelapa sawit.
Kelembagaan usaha tani di Kabupaten Garut pada tahun 2013 terdiri dari 738 buah Kelompok Tani, 5 buah Koperasi, 2 buah Asosiasi, 10 buah KUB, 14 orang penangkar benih/bibit, dan 78 unit Penyuling. Sebagai ilustrasi, tenaga kerja yang terlibat dalam perkebunan besar tercatat 12.767  orang  yang  terdiri  dari  142  orang  tenaga kantor, 1.228 orang tenaga kerja bulanan, dan 3.264 orang tenaga kerja harian tetap, 3.930 orang tenaga harian lepas dan 4.203 orang tenaga kerja musiman.

Tabel 4.
Perkembangan Produksi 10 Komoditas Unggulan Perkebunan, 2012 - 2013
No
Komoditas
Produksi  Tahun
+/- (%)
2012
2013
1
Teh
4.929,00
4.937,00
0,16
2
Tebu
1.696,00
1.979,00
16,69
3
Karet
141,00
144,00
2,13
4
Tembakau
3.480,00
3.507,00
0,78
5
Kopi
1.635,00
1.685,00
3,06
6
Akarwangi
75.00
75.30
0,4

Jumlah
11.635.60
12.327.30
23,22
Sumber : Dinas Perkebunan Kab. Garut Tahun 2013

Ø Potensi Perikanan
Kabupaten Garut memiliki potensi perikanan air tawar sebesar 26.339 Ha, mencakup perikanan budidaya dan perikanan tangkap di perairan kolam (kolam air tenang), kolam air deras, mina padi, perairan umum seperti danau/rawa seluas 258 ha, sungai 1.290,29 Km. Potensi budidaya air payau berupa calon areal tambak seluas kurang lebih 22.000 Ha. Potensi perikanan di Kabupaten Garut digambarkan dalam tabel berikut ini :
Tabel 5.
Potensi Perikanan Budidaya Kabupaten Garut


Jenis Kegiatan
Areal

Lokasi

Produksi
Tersedia
Diusahakan
Perikanan Budidaya
a. Kolam




·  Pembesaran
·  Pembenihan
·  Kolam Air Deras
3.500 ha 500 ha
1 ha
3.067,47 ha
1-
67 unit
(42 Kec.)
40 Kec.
(15 Kec.)
20.1224,15 ton/th
-
803,40 ton/th
b. Tambak




·  Udang
·  Minapadi
1000 ha
21.000 ha
26,24 ha
8.530,46 ha
(6 Kec.)
(40 Kec.)
314,93 ton/th
18.477,66 /th
Perikanan Tangkap
a. Danau/Situ/Rawa
258 ha
258 ha
20 Kec.

b. Sungai
1.290,3 km
-
(16 Kec.)

c. Laut
80
-
6 Kec






Sumber: Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Garut, 2013


Ø   Potensi Energi Panas Bumi
Kabupaten Garut memiliki potensi energi panas bumi cukup besar yang diperkirakan mencapai total 1045 MW(Mwe). Sumber energi panas bumi dapat dimanfaatkan baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai energi terbarukan, panas bumi dapat diandalkan sebagai pasokan jangka panjang. Disamping pembangkit tenaga listrik, energi ini dapat dimanfaatkan untuk pengeringan hasil pertanian, pengawetan hasil perikanan dan pariwisata. Pengusahaan secara komersial pemanfaatan langsung baru sebatas untuk terapi dan rekreasi seperti di Cipanas, sedangkan pemanfaatan tidak langsung untuk pembangkit listrik baru dikembangkan di daerah Darajat (350 MW).
Tabel 6.
Potensi Pengembangan Energi Panas Bumi di Kabupaten Garut


No


Lokasi

Install PLTP
(Mwe)
Energy Potensial
Resources (Sumber Daya)

Reserve (Cadangan)

Total
Speculative
Hypothetic
Possible
Probable
Proven
1
Cilayu
-
100
-
-
-
-
100
2
Ciarinem
-
25
-
-
-
-
25
3
G. Papandayan
-
225
-
-
-
-
225

4
G. Guntur Masigit

-

-


70

-

-

70
5
Darajat
125
-

-
70
280
350
6
G. Talaga Bodas
-
-
75
120
80
-
275
TOTAL
125
425
620
1045
Sumber : Dinas SDAP Kabupaten Garut, dalam www.garutkab.go.id
Ø Potensi PLTMH
Selain energi panas bumi, potensi energi lainnya adalah energi sumber daya air sungai, dalam dengan menggunakan mikro hidro. Lokasi sumber energi air diantaranya terdapat di Cibatarua kecamatan Pamulihan, Cirompang kecamatan Bungbulang dan Cimerak kecamatan Cibalong dengan kapasitas antara 19,57 kW- 277,5 kW.

Ø Potensi Industri
Beberapa sektor industri memiliki potensi yang cukup besar di Kabupaten Garut, diantaranya adalah tekstil dan produk tekstil, penyamakan kulit, alas kaki serta industri makanan. Hanya saja saat ini, berdasarkan Perda No 29 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah, kawasan peruntukkan yang tersedia adalah untuk industri kecil dan menengah.

VII.     PELUANG INVESTASI
v Deskripsi Peluang Investasi
Terdapat banyak potensi investasi yang prospektif untuk dikembangkan di Kabupaten Garut pada berbagai sektor usaha, namun berdasarkan kesepakatan diskusi dipilih peluang investasi  pabrik  pakan  ternak  ruminansia  yang  disusun  ke  dalam  profil  investasi.    Pilihan tersebut bukan mengindikasikan bahwa peluang ini yang paling prospektif, tetapi semata – mata karena pertimbangan sebagai berikut:
« Masyarakat dan pelaku usaha telah siap menerima investasi sehingga proses inisiasi dapat berjalan dengan lancar serta memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya.
« Para pelaku usaha yang terlibat dalam investasi telah menguasai kebutuhan teknis sehingga masalah teknis yang kemungkinan timbul dapat diantisipasi sejak awal sehingga mereduksi resiko kegagalan akibat persoalan teknis.
« Investasi yang dipilih bersifat fleksibel, modus operasi investasi dapat dinegosiasikan sesuai dengan ketersediaan dana dan target pencapaian hasil.
            Investasi pabrik pakan ternak, telah banyak dinantikan oleh para pelaku usaha peternakan, dengan harapan mereka menclapat harga lebih murah, dengan kualitas pakan yang memenuhi standar dalam hal kadar nutrisi dan tingkat daya cernanya.

v Lokasi
Lokasi investasi yang direkomendasikan adalah yang berdekatan dengan sentra usaha peternakan dan juga dekat dengan sentra jagung sebagai bahan baku utama, selain itu aksesibilitas lokasi serta kondisi lingkungan sekitar pabrik menjadi pertimbangan utama pemilihan lokasi.
Dibutuhkan investasi untuk pembelian lahan dan pembuatan bangunan serta pembelian mesin produksi. Perhitungan investasi dilakukan dengan menyesuaikan  kapasitas  produksi yang akan dipasang, dengan cara melakukan komparasi dengan perusahaan yang memiliki kapasitas mesin yang relatif sama.
Berdasarkan Perda Nomor 29 tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Garut, kawasan peternakan adalah kawasan yang secara khusus diperuntukan untuk kegiatan peternakan atau terpadu dengan komponen usaha tani (berbasis tanaman pangan, perkebunan, hortikultura atau perikanan) berorientasi ekonomi dan berakses dan hulu sampai hilir.
Untuk industri pengolahan pakan ternak, Kecamatan Banyuresmi merupakan salah satu kawasan peternakan sehingga lokasi pabrik yang diusulkan berada di Desa Mekarmukti Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut dengan koordinat lahan untuk pabrik pakan ternak adalah 7° 9'29.79“ LS dan 107°55'24.80“ BT.

v ANALISIS FINANCIAL
Uraian
Nilai
Satuan
Volume Produksi Pakan
30,000
kg/hari
Harga Jual Pakan
2,000
Rp/kg
Net Profit (20%)
12,000,000
Rp/hari
Asumsi hari produksi
365
hari/tahun
Pendapatan bersih per tahun
4,380,000,000
Rp/tahun
Investasi
11,616,600,000
Rp
Payback Period
2.65
tahun
IRR
38
Persen
NPV
5,111,763,883.5
Rp
Profitability Index
3.34


v ANALISIS KEBIJAKAN DAN KELEMBAGAAN PEMERINTAH
Mekanisme hubungan antar pihak dalam rencana pengembangan pabrik pakan ternak , melibatkan pemerintah, perbankan dan atau investor, petani jagung, dan kelompok peternak ayam ras, dengan skema hubungan sebagai berikut :
F Pemerintah melakukan pembinaan kepada para petani jagung, investor, pabrik pakan dan peternak unggas agar mempunyai keterkaitan yang saling menguntungkan dalam konsep pengembangan agribisnis terpadu.
F Petani Jagung membuat MoU dengan pabrik pakan untuk mendapatkan order atau PO dengan harga kontrak yang menguntungkan kedua belah pihak.
F Peternak membuat MoU dengan pabrik pakan untuk mendapatkan pasokan  pakan dengan harga kontrak yang memberikan keringanan cara pembayaran, sehingga petani tidak terbebani dengan modal yang terlalu besar.
F Pabrik pakan menampung seluruh hasil jagung petani jagung untuk diproses, dan pembayarannya dilakukan sesuai dengan harga kontrak yang telah disepakati.
F Perbankan/investor yang mendanai program, dengan pendanaan yang terintegrasi diharapkan resiko kerugian akan dapat diminimalkan.

v PERMOHONAN PERIJINAN DI KABUPATEN
Model I PMDN , dilengkapi :
« Akta perusahaan / KTP bagi perorangan
« Salinan NPWP
« Proses dan flowchart uraian produksi/kegiatan usaha
« Surat kuasa apabila bukan ditandatangani direksi
Model I PMA, dilengkapi:
ü  Peserta Indonesia :
o    Akte Perusahaan
o    Salinan KTP apabila perorangan
o    Salinan NPWP
ü  Peserta Asing :
§  Akte Perusahaan
§  Salinan Paspor apabila perorangan
§  Salinan NPWP untuk PT PMA
§  Letter of Power Attorney
§  Proses dan Flowchart uraian produksi/kegiatan usaha

v PERIJINAN DI TINGKAT PUSAT
ü BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) :
o    Surat Persetujuan Penanaman Modal/ SP-PMDN atau SP-PMA (khusus bagi penanam modal dalam rangka PMDN dengan nilai investasi lebih besar dari Rp. 10 milyar dan PMA dengan nilai investasi sampai dengan US$.100 juta).
o    Surat Persetujuan Presiden, yang ditindaklanjuti dengan penerbitan Surat Pemberitahuan tentang Persetujuan Presiden/SPP (khusus bagi penanam modal dalam rangka PMA dengan nilai investasi lebih besar dari US$.100 juta).
o    Surat Persetujuan Pemberian Fasilitas atas Pengimporan Barang Modal/Bahan Baku/Penolong (SP Pabean BB/PP) untuk pemberian fasilitas atas pengimporan  bahan mesin/peralatan
o    Angka Pengenal Importir Terbatas (APIT) untuk mengimpor barang modal dan bahan baku yang dibutuhkan
o    Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTK) untuk penggunaan Tenaga Kerja Asing
o    Izin Usaha Tetap (IUT)

ü BPN (Badan Pertanahan Nasional) :
o    Hak Guna Usaha (HGU) yang luasnya lebih dari 200 Ha (dua ratus hektar)

v PERIJINAN DI TINGKAT PROVINSI
ü BKPMD Jawa Barat :
o    Surat Persetujuan Penanaman Modal (khusus bagi penanam modal dalam rangka PMDN dengan nilai investasi sampai dengan Rp. 10 milyar)
o    Surat Persetujuan Pemberian Fasilitas atas Pengimporan Barang Modal/Bahan Baku/Penolong
o    Angka Pengenal Importir Terbatas (APIT)
o    Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTK)
o    Izin Usaha Tetap (IUT)
o    Izin Tenaga Kerja Asing (IKTA)
ü PN Provinsi Jawa Barat :
o    Hak Guna Bangunan (HGB) yang luasnya lebih dari 5 Ha (lima hektar)
o    Hak Guna Usaha (HGU) yang luasnya tidak lebih dari 200 Ha (duaratus hektar)

v PERIJINAN DI TINGKAT KABUPATEN GARUT
F Izin Lokasi oleh BAPPEDA Kabupaten Garut
F Pengesahan site plan oleh BAPPEDA Kabupaten Garut
F Izin Mendirikan Bangunan (IMB) oleh Dinas Bangunan dan Pemukiman Kabupaten Garut
F Izin Undang-Undang Gangguan (IUUG/HO) oleh Bagian Ekonomi SETDA Kabupaten Garut
F Hak Guna Bangunan (HGB) yang luasnya sampai dengan 5 Ha (lima hektar) oleh BPN Kab.Garut
F UPL/UKL/AMDAL oleh Dinas Lingkungan Hidup KP Kabupaten Garut

v  REALISASI DI TINGKAT KABUPATEN GARUT
F Salinan akta pendirian perusahaan dan pengesahannya
F Salinan IPPT
F Salinan IMB
F Salinan Ijin Gangguan (HO)
F Salinan Sertifikat Hak Atas Tanah
F LKPM
F RKL/RPL atau UKL/UPL atau SPPL
F BAP
F Salinan SP PMDN atau SP PMA dan perubahannya

v  ANALISIS SOSIAL BUDAYA DAN KEAMANAN
«  Sikap  dan  kondisi masyarakat          Kabupaten  Garut pada umumnya berupaya mampu memenuhi  kebutuhannya  untuk  lebih  maju  dengan  mengandalkan  kemampuan mengelola
«  Segala potensi sumber daya yang ada dalam pembangunan perekonomian, membangun kehidupan sosial dan budaya sesuai kearifan lokal, membangun kepercayaan masyarakat (social capital) dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), sekaligus membangun sikap takwa kepada Yang Maha Kuasa.
«  Masyarakat Kabupaten Garut juga amat menyadari bahwa roda perekonomian, politik, sosial budaya dan sektor kehidupan lainnya, tidak akan berjalan dengan baik jika tidak  ditopang oleh keadaan masyarakat yang tentram dan tertib. Untuk itu maka peningkatan kesadaran dan kewaspadaan dini masyarakat terhadap ancaman gangguan terus didorong dan ditingkatkan oleh semua pihak.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENERAPAN MOTIVASI DALAM ORGANISASI (STUDI KASUS PT PERTAMINANA PERSERO UPMS MEDAN)

TUGAS PERILAKU ORGANISASI "PENERAPAN MOTIVASI DALAM ORGANISASI"   DISUSUN OLEH: Kelompok 5 Dicky Sugiatna...